| 24 April 2010 | 0 Comments |

Adam Sang Fakir

Tags: , , ,

Category: Islam & Muslim

Dari lumpur hitam yang diberi bentuk, selanjutnya dibiarkan tertiup angin dan menjadi tanah liat kering berwarna merah kekuning-kuningan bercampur warna putih. Demikianlah, Allah SWT membentuknya dengan “tangan-Nya” menjadi sebentuk manusia. Saat itu, Adam belum dapat bergerak, tidak memiliki daya upaya dan kemampuan sama sekali, hingga kemudian Allah SWT meniupkan kepadanya ruh dari-Nya. Sebagaimana firmannya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 28-29)

Setelah ruh itu masuk ke tubuhnya, Adam dapat menggerakkan tubuhnya. Namun saat itu, Adam masih fakir (butuh) kepada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Allah menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada Adam, dan yang pertama didengar oleh kedua telinganya adalah nama Allah Yang Mahaagung dan Adam pun mengucapkannya. Allah SWT mengajarkannya segala sesuatu yang tampak di depan pandangan matanya, juga apa yang berada di langit dan yang tersembunyi di dalam lautan, serta yang berada di perut bumi. Selanjutnya, Dia menanyakan kepada para Malaikat tentang esensi benda-benda itu: apa nama-namanya dan apa pengetahuan mereka tentangnya? Namun, para Malaikat tidak mampu menjawabnya. “Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 32)


Allah SWT memerintahkan kepada Adam untuk memberitahukan kepada Malaikat nama-nama benda itu, maka Adam pun menyebutkan semuanya dan menjelaskan kepada mereka tentang alam ini dengan rinci dan manfaat-manfaatnya. “Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? “ (QS. Al-Baqarah: 33) Tidak aneh jika Adam menjadi suatu khazanah pengetahuan yang luas, sebuah perpustakaan yang mengandung seluruh ilmu dan pengetahuan kemanusiaan, serta laboratorium pusat yang darinya keluar seluruh kreasi yang akan diciptakan manusia, dan penemuan-penemuan yang akan ditemukan di masa depan, melalui tangan anak-anak Adam, hingga datang hari kiamat.

Kefakiran Adam kepada Allah SWT tidak hilang setelah ia mendapatkan ilmu yang besar ini. Adam tetap fakir, karena ia tidak mengetahui kedudukannya di alam semesta ini. Allah SWT tidak membiarkan Adam dalam kebingungannya itu. Allah SWT kemudian memerintahkan kepada para malaikat untuk memberikan penghormatan dan ketundukan mereka di hadapan secuil ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada Adam yaitu dengan bersujud kepada Adam.

Namun, kefakiran Adam kepada Allah SWT tidak berhenti setelah ia mendapatkan kepastian tentang kemuliaan kedudukannya di semesta ini. Adam mengarahkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, seakan–akan ia sedang mencari sesuatu yang menenangkan dirinya dengan melihatnya. Hal itu karena ia tidak dapat berteman dengan Malaikat, karena mereka diciptakan dari cahaya, sementara ia diciptakan dari tanah. Cahaya dan tanah adalah dua unsur yang gerakannya berbeda satu sama lain, dan getarannya tidak dapat bertemu. Oleh karena itu, Allah SWT menciptakan pasangan bagi Adam dari makhluk yang sejenis dan dengan tabiat yang sama dengannya, dan keduanya berkesesuaian dalam gerakan hidup dan getarannya.

Meskipun Allah SWT teleh mencukupkan kefakiran Adam dengan adanya Hawa yang memberikan ketenangan hidup baginya, namun ia tetap fakir. Ia ingin hidup bersama istrinya di tempat yang layak, penuh dengan kesenangan dan ketenangan selamanya. Allah SWT tidak membiarkan Adam dan istrinya gelisah dalam waktu yang lama, maka Dia memberikan wahyu kepada keduanya untuk tinggal di surga, makan dan minum di sana. Allah SWT berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, ….” (QS. Al-Baqarah: 35)

Namun, apakah kefakiran Adam dan kebutuhannya kepada Allah SWT berhenti hingga batas ini?


Adam tetap fakir, bahkan ia tetap fakir dengan kefakiran yang dirasakan oleh seluruh makhluk di alam semesta ini. Yang dibutuhkan Adam ialah melihat wajah Allah SWT, yaitu penglihatan yang sempurna atas Zat Yang Maha Pemberi. Suatu kemuliaan tertinggi yang belum pernah dianugerahkan kepada seluruh makhluk di alam semesta, baik dari kalangan malaikat maupun jin sebelum kehadiran Adam.

Baca lebih lengkap kitab Al-Faqru wal Ghina fil Qur’anil Karim, karya Muhammad Bahauddin al-Qubbani.



Leave a Reply