KONSEPSI TAUHID
::: Leave a comment :::
Tema utama Akidah Islam adalah iman kepada Allah SWT. Esensi iman kepada Allah SWT adalah Tauhid yaitu mengesakan-Nya, baik dalam zat, asma’ wa sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya (af’al).
Secara sederhana Tauhid dapat di bagi dalam tiga tahapan:
- Tauhid Rububiyah, yaitu mengimani Allah sebagai satu-satu-Nya Rab, yang mencakup pengertian Khaliq (Maha Pencipta), Raziq (Maha Pemberi Rizki), Hafizh (Maha Pemelihara), Mudabbir (Maha Mengelola), dan Malik (Maha Memiliki)) (QS. 2:21-22; 35:3, 11-13; 23:84-85).
- Tauhid Mulkiyah, yaitu mengimani Allah sebagai satu-satu-Nya Raja yang berdaulat bagi seluruh alam, yang mencakup pengertian Wali (Pemimpin QS. 18:44; 2:257; 5:55), Hakim (Penguasa yang menentukan hukum dan semua peraturan kehidupan QS. 6:57; 6:62; 12:40; 5:44-47), dan Ghayah (Yang menjadi tujuan segala sesuatu QS. 94:8; 6:162; 1:5).
- Tauhid Ilahiyah, yaitu mengimani Allah sebagai satu-satunya Al-Ma’bud (Yang disembah QS. 20:14).
Ikrar La Ilaha Illallah tidak akan dapat diwujudkan secara benar tanpa mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah. Karena itu ikrar terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai satu syahadat dari dua syahadat yang menjadi pintu gerbang seseorang memasuki din Allah SWT. Nabi Muhammad ditempatkan sebagai uswatun hasanah; titik pusat keteladanan (baca: tauhidul uswah) baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) secara vertikal, maupun dalam hubungannya dengan manusia (hablum minannas) secara horizontal.
Ikrar La Ilaha Illallah dan Muhammad Rasulullah bila dipahami secara benar tentu akan memberikan dampak positif kepada setiap pribadi muslim yang antara lain dapat diukur dari dua sikap yang dilahirkan yaitu cinta dan ridha. Dia harus memberikan cinta yang pertama dan utama sekali kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasulullah SWT dan Jihad fi sabilillah (QS. 2:165; 9:24). Dia harus menempatkan cinta kepada anak, pasangan hidup, saudara, harta benda, pangkat dan lain sebagainya di bawah cinta utama, dan harus selalu diwujudkan dalam bentuk yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya. Bila tidak, cintanya akan ambruk; jatuh tak bernilai, dan dia sendiri akan mendapatkan sanksi dari Allah SWT (QS. 9:24).
Di samping itu dia harus ridha dengan segala keputusan dan aturan Allah dan Rasul-Nya, ridha lahir batin; tanpa ada sedikitpun rasa tidak puas dihatinya (QS. 4:65). Cinta dan ridha itu diwujudkan dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya (QS. 3:31, 132; 4:64-65,80). Taat kepada Allah dan Rasul-Nya hanya dapat direalisir secara benar dengan mematuhi semua ajaran Islam, sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh Allah SWT (QS. 3:19,83).
Sebagai dampak dari syahadatain, tiga unsur pokok yang dimiliki manusia; hati, akal dan jasad, akan mendapatkan shibgah Allah (QS. 2:138) sehingga:
- Hati yang diberi identitas syahadatain akan melahirkan keyakinan yang benar (al-I’tiqad ash-shahih) dan seterusnya akan melahirkan motivasi (niat) yang ikhlas.
- Akal yang diberi identitas syahadatain akan melahirkan pikiran yang Islami (al-manhaj al-Islami)
- Jasad yang diberi identitas syahadatain akan melahirkan amal saleh (al-‘amalush shalih) sebagai tanfiz dari keinginan hati rancangan akal.
Selain itu, Seseorang yang bertauhid kepada Allah SWT memiliki kemerdekaan dalam kehidupan. Dia hanya tergantung semata-mata kepada Allah SWT. Bebas dari segala belenggu-belenggu kehidupan baik belenggu harta, pangkat, manusia dan lain sebagainya. Bebas dari segala kemusyrikan baik yang tradisional (jimat, matera, tenung dan lain-lain) mapun kemusyrikan modern (mempertahankan ilmu pengetahuan, materi dan kedudukan) (QS.31:13; 4:48; 17:23).
Seseorang yang bertauhid kepada Allah SWT akan mencintai Allah lebih dari segala-galanya (QS. 2:165), apabila disebut nama Allah hatinya bergetar (QS. 8:2). Sebagai bukti cintanya dia akan patuh kepada Allah dalam segala aspek kehidupannya. Dia rela menerima dan mengikuti segala keputusan Allah dan Rasul-Nya tanpa ada sikap penolakan sedikitpun, walaupun hanya dalam hati (QS. 4:65). Kepatuhannya kepada Allah dan Rasul-Nya diwujudkan dalam bentuk melaksanakan ajaran Islam secara total-kaffah (QS. 2:208) dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, bernegara dan kehidupan internasional. Baik yang berhubungan dengan aspek ekonomi, politik, budaya, pendidikan, seni, militer dan aspek-aspek lainnya. Baik siang maupun malam (24 jam sehari semalam) sehingga dia dapat meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan muslim (QS.3:102).
Wallahu A’lamu bi al-Shawab