Home > Islamic, Signs & Sciences > Otentikasi Kitab Suci

Otentikasi Kitab Suci

Jul 16th, 2009 by Fakhruzzaini, posted in Islamic, Signs & Sciences, tags: , , ,
::: Leave a comment :::

Tulisan ini saya awali dengan sebuah pengalaman menarik dari seorang teman saya (Dosen Perbandingan Agama di IAIN), begini ceritanya:

Pada suatu hari, seorang Nashrani datang ke rumah teman saya. Seorang Nashrani itu mengutarakan maksudnya ingin mengetahui lebih dalam tentang Kitab Suci Al-Quran (belajar tentang Al-Quran) kepada teman saya. Sebagai timbal-baliknya ia juga menawarkan untuk mengajarkan kitab suci agamanya (Alkitab) kepada teman saya. Kontan, teman saya bilang kepada Nashrani itu: Bagaimana mungkin saya mempelajari kitab saudara, sedangkan kitab saudara tidak ditulis dalam bahasa aslinya. Berbeda dengan Al-Quran yang ditulis dalam bahasa aslinya (bahasa Arab).

Tidak dapat dipungkiri, bahwa terjemahan tidak mampu menampung maksud yang dikehendaki oleh bahasa aslinya. Sehingga, sedikit demi sedikit hasil terjemahan tersebut menjauh/melenceng dari maksud yang dikehendaki oleh bahasa aslinya. Apalagi jika yang menterjemahkannya memang sama sekali tidak mengerti dengan maksud yang dikehendaki dalam bahasa aslinya.

Suatu hal yang menarik dari Kitab Suci umat Islam, Al-Quran, sejak pertama kali diturunkannya dari Allah Tuhan Yang Maha Tunggal kepada Nabi Muhammad saw. sampai saat ini dan sudah pasti hingga tiada lagi kehidupan di dunia ini, tetap dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Pada dasarnya, Al-Quran, kapan dan dimana saja dapat dijumpai dalam dua bentuk. Pertama, Al-Quran dalam bahasa aslinya saja, tanpa terjemahan. Kedua, Al-Quran dalam bahasa aslinya disertai dengan terjemahan. Bentuk yang pertama inilah -yaitu Al-Quran dalam bahasa aslinya saja, tanpa terjemahan- yang lebih mendominasi di rumah-rumah umat Islam. Sebab, walaupun sebagian mereka tidak memahami maknanya karena tanpa terjemahan, membaca bahasa aslinya saja sudah bernilai ibadah (mendapat pahala). Adapun dalam bentuk yang kedua, walaupun ada terjemahannya (misalnya bahasa Indonesia), akan tetapi tidak meninggalkan bahasa aslinya, bahasa Arab. Sehingga, apabila terjadi perbedaan hasil terjemahan dari satu orang dengan yang lainnya, maka dapat dilakukan konfirmasi dengan bahasa aslinya. Namun demikian, terjemahan yang diakui ialah penterjemahan yang dilakukan oleh suatu Tim Ahli Penterjemah Al-Quran yang telah disahkan di setiap negara. Beginilah cara umat Islam memelihara kitab sucinya, sehingga sudah pasti terhindar dari penyelewengan dan perubahan oleh tangan berdosa manusia.

Sangat berbeda halnya dengan kitab Injil yang diturunkan dalam bahasa Ibrani, sebagai bahasa aslinya. Kitab umat Islam ini, yang juga merupakan kitab suci umat Nashrani, sekarang tidak lagi bisa ditemui bahasa aslinya. Artinya, kitab Injil yang sekarang ini hanya dapat ditemui terjemahannya saja, tanpa bahasa aslinya. Maka dapat dipastikan, baik umat Nashrani maupun umat Islam sekarang ini tidak pernah melihat kitab Injil dalam bahasa aslinya. Hal ini tentunya mengundang banyak pertanyaan. Apakah masih ada kitab Injil yang berbahasa aslinya? Kalau ada, kenapa umat Nashrani dan umat Islam tidak pernah melihatnya, apalagi membacanya? Kenapa tidak pernah terdengar ada orang yang ingin belajar bahasa Ibrani? Selamatkah maksud atau makna yang dikehendaki Tuhan dalam bahasa aslinya, setelah diterjemahkan?

Misalnya, pada awalnya kitab Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, kemudian dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris, dari bahasa Inggris kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apakah dari proses penterjemahan yang demikian, maksud firman Tuhan akan selamat dari perubahan? Bagaimana jika prosesnya lebih panjang lagi? Sungguh mustahil ia akan selamat dari perubahan, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Ini tentu saja tidak hanya pada kitab Injil, akan tetapi juga pada kitab-kitab umat Islam lainnya, seperti Kitab Zabur dan Taurat.

Maka, sungguh secara ilmiah kitab yang tidak mempunyai bahasa asli seperti itu dapat disebut kitab yang tidak asli lagi (tidak otentik).

Dari segi bahasa asli atau tidak aslinya ini, tentunya orang yang berakal sehat dapat memberikan penilaian yang objektif, manakah kitab yang otentik?

Perhatikanlah Al-Quran, ketika Allah SWT di dalam surah Al-Hijr ayat 9 telah berjanji untuk memelihara Al-Quran dari segala bentuk penyelewengan dan perubahan, sehingga tetap asli sepanjang zaman.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Quran, dan sungguh Kami pula yang memeliharanya.

Demikianlah, Allah telah berjanji untuk menjaga Al-Quran, dan Ia sangat menepati janji-Nya. Maka tidak akan ada yang sanggup merubah isi Al-Quran walaupun satu ayat kalau Allah Yang Maha Pencipta yang memeliharanya. Dan sudah menjadi ketetapan-Nya, bahwa Ia tidak pernah menjamin atau berjanji untuk menjaga dan memelihara kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para Nabi dan Rasul terdahulu. Sehingga sangat wajar dan dapat dibuktikan secara ilmiah kenapa umat Islam sangat yakin bahwa kitab-kitab umat Islam yang terdahulu (Kitab Zabur, Taurat dan Injil) jika masih ada sampai sekarang ini, akan tetapi sudah tidak asli lagi karena telah dirobah oleh tangan-tangan kotor manusia.

Selain itu, apabila Tuhan menurunkan suatu kitab sesudah diturunkan-Nya suatu kitab sebelumnya, hal itu menyatakan bahwa kitab yang sebelumnya (terdahulu) itu sudah tidak berlaku lagi karena beberapa hal (salah satunya karena telah dirobah oleh tangan manusia) dengan adanya kitab yang diturunkan belakangan. Maka, ketika diturunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as, maka kitab Zabur yang datang terdahulu sudah tidak berlaku lagi. Begitu pula, ketika diturunkan kitab Injil kepada Nabi Isa as, maka kitab Taurat sudah tidak berlaku lagi dan kewajiban bagi kaum Yahudi untuk berpedoman atau berpegang kepada kitab Injil. Maka demikian pula, ketika diturunkan kitab suci Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw, maka kitab Injil sudah tidak berlaku lagi, dan kewajiban bagi kaum Yahudi dan Nashrani untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan hanya berpegang dan perpedoman kepada kitab suci Al-Quran. Dengan dirurunkannya Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul atau utusan yang terakhir, maka sangat mustahil apabila Al-Quran mengalami perubahan atau penyelewengan sebagaimana kitab-kitab terdahulu.

Oleh sebab itulah, Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang paling otentik di muka bumi dan diturunkan oleh Allah SWT. untuk seluruh umat manusia, sejak awal diturunkannya.





No Comments so far




Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>