Home > Islamic > Perang Budaya

Perang Budaya

May 16th, 2009 by Fakhruzzaini, posted in Islamic, tags: , , , ,
::: Leave a comment :::

Keluarga muslim merupakan bagian dari masyarakat muslim. Aturan Islam tentang sendi dan fondasi keluarga merupakan asas penting dalam Islam. Musuh-musuh Islam memandang jika mereka berhasil menghancurkan kaidah-kaidah dasar keluarga muslim, praktis mereka berhasil menghancurkan masyarakat dan umat Islam. Apabila umat Islam dapat digiring untuk meremehkan etika Islam tentang keluarga, tentu mereka dapat dengan mudah digiring untuk meremehkan etika-etika Islam dalam bidang lainnya. Bila ini terjadi, maka akidah Islam dalam hati umatnya akan terguncang.

Ketika tentara salib dikalahkan oleh tentara Tauhid, dan orang-orang Eropa merasa amat putus asa karena kekalahan bertubi-tubi selama perang yang menyita banyak waktu itu, mereka mulai memikirkan kembali cara yang tepat untuk menghancurkan umat Islam. Musuh-musuh Islam segera mengubah strategi mereka. Apabila mereka berhasil mengeluarkan keimanan dari hati umat Islam, umat Islam akan lumpuh, tinggal puing-puing, tak ubahnya benang laba-laba yang tidak bisa ditegakkan dan amat mudah rusak. Berangkat dari sini, dan guna mencapai tujuan yang buruk inilah, genderang “perang budaya” ditabuh untuk menghancurkan Islam.

Sejak saat itu, serangan kepada akal nalar dan budaya umat Islam dilakukan, sehingga mereka tidak lagi berpikir menggunakan Alquran dan Sunnah, melainkan menggunakan logika musuh-musuhnya. Pengalihan orientasi dari Islam menuju jahiliah, dari cahaya menuju kegelapan. Ini sangat berbahaya, dan gerakan ini telah dan sedang berjalan sekarang. Dalam melancarkan tugasnya dinegara-negara Islam, para misionaris bersembunyi di balik kedok “penyebaran budaya Eropa”, agar mereka tidak dimusuhi atau dihambat langkahnya oleh umat Islam.

Satle, dalam pengantar kajiannya Fath al-’Alam al-Islami (Ekspansi terhadap Dunia Islam), atau yang kerap dikenal dengan Al-Gharah ‘ala al-’Alam al-Islami (Serangan terhadap Dunia Islam), menyatakan:

“Pembagian wilayah Islam secara politis akan membuka jalan bagi datangnya peradaban Eropa, karena berdasar penelitian, Islam luar biasa lemahnya dalam sisi politik. Tidak berapa lama lagi wilayah peradaban berada di bawah naungan dan hegemoni budaya Eropa (Barat).”

Ia menambahkan:

“Kita jangan memperkirakan bahwa dunia Islam akan mengadopsi karakter dan budaya lain, jika kita tidak melakukan upaya bertahap dalam menggerogoti aspek Akidah dalam pola pikir mereka. Jika aspek ini sudah melemah, maka aspek-aspek kehidupan lainnya pun tentu akan rontok. Dan upaya ke arah itu dilakukan dengan menyebarkan budaya Barat ke segenap penjuru dunia Islam. Bila ini telah berhasil dilakukan, maka aspek spirit-keagamaan yang mereka anut akan dengan sendirinya keropos. Mereka tidak akan sanggup lagi menumbuhkan aspek Akidah mereka ke dalam bentuk lain, selain bentuk yang kita inginkan.”

Ini semua berlangsung tanpa disadari oleh umat Islam. Ketidaksadaran umat Islam ini karena racun yang mereka arahkan kepada Islam bersembunyi di balik jubah mewah peradaban, ilmu pengetahuan, dan rasionalitas.

Atienne Lame, dalam sebuah artikel yang dimuat majalah Al-’Alam edisi bahasa Prancis bulan September 1901, menulis:

“Memerangi Islam dengan kekerasan hanya akan membuat Islam makin tersebar luas. Hemat saya, sarana efektif yang sanggup menghancurkan dan meluluhlantahkan kontruksi bangunan Islam adalah mendidik anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen. Hal ini akan menebar benih-benih keraguan sejak usia pertumbuhan, yang akan merusak akidah Islam mereka tanpa mereka sadari. Kendati tiada seorang pun yang akan memeluk agama Kristen, namun saat itu mereka telah menjadi golongan yang tidak Islam; mereka menjadi tidak Islam dan tidak pula Kristen. Mereka, tanpa diragukan lagi, niscaya lebih berbahaya bagi Islam ketimbang jika mereka memeluk agama Kristen secara terang-terangan.”

Penyebaran peradaban Barat lewat keluarga muslim akan membuahkan hasil yang mereka inginkan. “Keluarga muslim yang berbudaya Barat” adalah keluarga yang memeluk sebuah budaya yang tumbuh di atas iklim kekafiran dan ateisme, menganut suatu budaya yang lahir dari rahim salibisme yang sarat dengan Islamphobia dan kebencian kepada umatnya, memeluk sebuah budaya yang meracuni pola pikir anak-anak yang baru tumbuh, dan membesarkan mereka dalam suasana kebencian kepada agama, mengikuti sebuah peradaban yang penuh dengan pengumbaran birahi dan kemesuman. Sungguh mengerikan jika keluarga yang secara formal merupakan keluarga muslim, tapi budaya, tradisi dan moral yang dianutnya adalah Barat!

Dikutip dari buku Dustur al-Usrah fi Zhilal al-Qur’an (Cita Keluarga Islam: Pendekatan Tafsir Tematik) karya Ahmad Fa’iz.





1 Comment so far


By Emansipasi Wanita | AmazingLight on 07-23-2011 8:30 am

[...] lakukan untuk menghancurkan Islam dari dalam, dari hati orang-orang Islam, melalui kedok “perang budaya“, semangat “emansipasi wanita”, “poligami” dan sebagainya. Padahal [...]



Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>