| 5 Januari 2014 | 0 Comments |

Pluralitas Yes! Pluralisme No!

Tags: , , , , , , , , , ,

Category: Islam & Muslim, Kabar, Signs & Sciences

Tulisan berikut saya angkat sebagai penjelasan singkat tentang kesesatan paham yang disebut “PLURALISME“. Tulisan ini merupakan artikel saya yang pernah dimuat dalam Buletin Dakwah Islam dan Sains STMIK Palangkaraya “SIGNS & SCIENCES” Edisi 7/Tahun I – 30 Sya’ban 1433H/20 Juli 2012M.

Alhamdulillâh, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad, wa ba’du.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah SWT. Sering kita dengar orang-orang menyebutkan kata ini: pluralisme. Namun kita jarang sekali mendengar orang-orang menyebut kata ‘pluralitas‘. Kita umat Islam wajib untuk mengetahui apa perbedaan antara keduanya dan bagaimana menyikapinya. Karena di antara umat Islam banyak yang tidak paham dan bahkan menganggap sama keduanya, entah mereka orang biasa atau terpelajar dan berpendidikan tinggi sekalipun.

PLURALITAS merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan suatu masyarakat yang majemuk serta memiliki keragaman dalam berbagai aspek kehidupan. Islam mengakui adanya pluralitas ini sebagaimana dalam al-Qur’an surah Hud ayat 118 Allah SWT berfirman:

“Jikalau Tuhanmu meng-hendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa berbeda…” [QS. 11:118]

Di surah yang lain, yaitu al-Hujurat ayat 13 Allah SWT juga berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” [QS. 49:13]

Kedua ayat di atas merupakan ayat pluralitas yang menegaskan bahwa kebhinekaan dalam kehidupan umat manusia adalah suatu keniscayaan. Keragaman agama, adat istiadat, ras, suku bangsa dan bahasa merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindarkan.

Karenanya, Islam tidak pernah memaksa orang lain apalagi dalam hal memeluk agama Islam dan tidak boleh pula mengganggu agama lain, sebagaimana Allah nyatakan dalam surah al-Baqarah ayat 256:

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam…” [QS. 2:256]

Islam juga tidak pernah melarang umatnya berbuat baik dan bersikap adil kepada sesama manusia, apapun agamanya, selama tidak memerangi Islam dan umatnya serta tidak berkaitan dengan urusan Keyakinan dan Aqidah Islamiyyah, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surah al-Mumtahanah ayat 8-9:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS. 60:8-9]

Tuntunan al-Qur’an tentang pluralitas ini sungguh sangat indah. Inilah yang di-ajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Nabi SAW mempunyai hubungan yang sangat baik dengan orang-orang di luar Islam, sampai-sampai beliau SAW membuat Piagam Madinah dalam rangka menjaga hubungan antarumat beragama di Madinah.

Bahkan Nabi SAW pernah bersabda:

“Barangsiapa yang menyakiti/mengganggu kafir dzimmi (orang kafir yang hidup dalam masyarakat Islam dan tidak mengganggu umat Islam), maka aku akan jadi musuhnya, dan niscaya aku musuhi dia di hari kiamat.”

Subhânallâh… Inilah puncak penghargaan Nabi Muhammad SAW terhadap pluralitas.

Lalu bagaimana dengan pluralisme? Istilah ini sering disalah-artikan oleh pihak-pihak dan golongan tertentu untuk menyesatkan umat Islam. Pluralisme mereka artikan dengan arti pluralitas, sungguh menyesatkan!

Karena itu perlu kita ketahui bahwa PLURALISME adalah sebuah paham atau ajaran yang meyakini bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran semua agama adalah relatif, karenanya pula tidak boleh suatu agama mengklaim bahwa agamanya yang benar. Padahal dalam surah Ali-Imran ayat 19 dengan jelas Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” [QS. 3:19]

Demikian pula pada ayat 85 surah yang sama Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. 3:85]

Klaim kebenaran yang dinyatakan dalam al-Qur’an ini wajib untuk diyakini oleh umat Islam. Namun tidak bagi pihak yang berhaluan pluralisme. Justru claim of truth yang diyakini umat Islam dianggap sebagai sikap egoisme dalam beragama. Selain itu, mereka juga berupaya, menganjurkan dan membenarkan pencampur-adukan aqidah dan peribadatan semua agama. Hal-hal tersebut dapat diketahui dari buku-buku karya mereka seperti Fiqih Lintas Agama yang berisi ajaran menghalalkan perkawinan beda agama, boleh mengucapkan selamat hari besar agama lain bahkan dianjurkan untuk ikut dalam kegiatan keagamaan umat lain. Na’udzubillâh…

Karena itu tidak heran jika orang-orang dan golongan yang menganut paham ini membela aliran-aliran sesat seperti shalat dengan bahasa Indonesia, membela orang-orang yang mengaku nabi. Mereka juga membela pembajakan agama seperti yang dilakukan Ahmadiyah. Menurut mereka semua agama dan aliran pasti masuk surga dan berada pada tempat yang sama di sisi Allah SWT. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ini merupakan kesesatan yang nyata!

Dalam 2 ayat sebelumnya sudah dinyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar dan diridhai oleh Allah SWT, demikian pula dalam surah al-Kafirun ayat 1-6 dengan tegas dinyatakan perbedaan antara Islam dengan agama lain dan dengan tegas pula dinyatakan penolakan terhadap upaya pencampur-adukan agama.

Pluralisme sangat berbahaya dan dapat mengaburkan kebenaran ajaran Islam dan menyesatkan aqidah umat Islam. Karena itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa HARAM atas paham Pluralisme ini termasuk paham Liberalisme dan Sekulerisme Agama berdasarkan fatwa nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005. Demikian pula dalam hal aqidah dan ibadah, misalnya do’a bersama yang dipimpin oleh non-muslim maka hal ini telah difatwakan HARAM berdasarkan fatwa nomor 3/MUNAS VII/MUI/7/2005 tentang Do’a Bersama.

Fatwa lain dari MUI yang telah dikeluarkan sejak tahun 1981 yang sering diabaikan oleh sebagian besar umat Islam adalah fatwa tentang KEHARAMAN ikut dalam rangkaian kegiatan natal bersama.

Sungguh sangat jelas perbedaan antara pluralitas dan pluralisme. Islam dan ajarannya yang benar tidak boleh disamakan dengan yang lain. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT dan Dia telah menetapkan bahwa agama yang benar di sisi-Nya adalah Islam. Islam adalah yang haq dan lainnya adalah batil. Tidak mungkin haq dan batil dapat disamakan apalagi disatukan.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra ayat 81: “Dan katakanlah: “Yang haq (benar) telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [QS. 17:81]

Semoga Allah SWT menjadikan kita teguh pendirian, hidup dan mati dalam agama Islam yang diridhai-Nya. Amin.

Shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad, Walhamdulillâh…

Artikel disusun dari berbagai sumber. Gambar diambil dari sini



Leave a Reply